Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Hai ... sahabat blogger jumpa lagi di blog sederhana ngiringmelajah.com. Pada kesempatan ini admin akan berbagi sedikit terkait dengan materi kesimpulan dan refleksi pemikiran Ki Hajar Dewantara.


Pendidikan dan  Pengajaran adalah dua hal yang sangat perlu dipahami secara lebih mendalam oleh para calon guru penggerak. Selama ini dua hal ini sering terkaburkan maknanya antara satu dengan yang lain dan sering dianggap sama. Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Indonesia) antara pendidikan dan pengajaran adalah dua hal yang memiliki pengertian berbeda. "Pendidikan" menurut Ki Hajar Dewantara adalah tuntunan bagi seluruh kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya. Sedangkan "Pengajaran" adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin (Dewantara I, 2004).

Menurut Ki Hajar Dewantara pengajaran dan pendidikan harus selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa agar semangat cinta tanah air dapat terus terpelihara. Ki Hajar Dewantara menekankan agar pendidikan selalu memperhatikan; a) Kodrat Alam, b) Kemerdekaan, c) Kemanusiaan, d) Kebudayaan, dan e) Kebangsaan. Semua ini tujuannya yaitu agar terwujud pendidikan yang memerdekakan siswa.

Apakah siswa-siswa saya sudah merdeka di dalam belajar? Pertanyaan ini muncul setelah saya memahami modul terkait filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara pada Pendidikan Guru Penggerak.

Sebelum saya mempelajari modul ini saya beranggapan bahwa siswa-siswa saya itu adalah kertas putih yang kosong dan kita bebas mengisinya, maka saya pun mengisi mereka dengan memberikan transfer ilmu (lebih berpusat pada guru) tanpa memikirkan apakah pembelajaran yang saya lakukan sudah bermakna bagi mereka atau belum. Dalam pembelajaran yang saya lakukan saya lebih sering menggunakan metode atau strategi yang bagus menurut saya tetapi tidak pernah memperhatikan kebutuhan siswa atau pembelajaran seperti apa yang mereka inginkan. Saya tidak pernah membuat kesepakatan bersama saat mengawali pelaksanaan pembelajaran, saya juga sering memberikan hukuman kepada siswa saat mereka tidak mengerjakan tugas-tugas yang saya berikan. Selain itu saya sangat menginginkan dalam pembelajaran yang saya lakukan siswa bisa tertib, duduk yang rapi, diam, dengan pandangan yang terpusat kepada gurunya. Semua itu saya anggap pelaksanaan pembelajaran yang sudah bagus dan dapat membuat siswa dengan mudah memahami materi-materi yang saya sampaikan.

Namun, semua itu ternyata sangat bertentangan dengan apa yang saya pelajari pada modul ini. Ki Hajar Dewantara memandang anak itu sebagai kertas putih yang sudah berisi coretan namun masih buram, nah tugas kita sebagai guru untuk menjadikan coretan yang buram itu semakin jelas. Artinya setiap anak sudah memiliki bakat dan potensinya masing-masing, nah tugas kita sebagai guru untuk memunculkan dan mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut. Selain itu berdasarkan filosofi pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, kita harus memandang siswa kita sebagai individu yang berbeda dan unik. Setiap siswa punya gaya belajar dan potensinya masing-masing, sehingga kita sebagai guru harus melaksanakan pembelajaran yang berdiferensiasi. Artinya dalam melaksanakan pembelajaran guru harus selalu memperhatikan perbedaan individu dan juga melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Jangan memaksakan metode atau strategi yang menurut guru baik namun belum tentu memperhatikan setiap perbedaan individu siswa. Sebaiknya kita sebagai guru harus melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui kebutuhan siswa, profil siswa, gaya belajar siswa, metode belajar seperti apa yang mereka inginkan, sehingga kita sebagai guru dapat merancang pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan yang dibutuhkan siswa.  

Selain itu filosofi pendidikan yang lain yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara yang perlu saya terapkan di dalam melaksanakan pembelajaran yaitu "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani". Sebagai seorang guru kita harus selalu memberikan teladan, membangun semangat, dan juga memberikan dorongan kepada siswa kita, agar siswa kita dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat dan potensi yang dimiliki.

Adapun beberapa hal yang dapat segera saya lakukan agar kelas saya nantinya dapat mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara diantaranya; 1) merancang dan melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui profil siswa, 2) merancang pembelajaran sesuai dengan hasil asessmen diagnostik awal yang telah dilakukan, 3) membuat kesepakatan belajar, 4) memberikan variasi bentuk tugas sesuai dengan potensi siswa, 5) melaksanakan pembelajaran dengan metode bermain sambil belajar, dan 6) melakukan variasi penilaian

Demikianlah kesimpulan dan refleksi terkait pemikiran Ki Hajar Dewantara yang dapat admin bagikan. Semoga bermanfaat.

Salam ngiring melajah.

3 Komentar untuk "Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel